Mari kita lestarikan tradisi dan budaya bangsa

Senin, 29 Juli 2013

Rumah Adat Gorontalo

Rumah Adat Doloupa

Rumah Adat Papua

Rumah Honai

Rumah Adat Maluku

Rumah Baileo

Rumah Adat Toraja

Rumah Adat Tongkonan

Rumah Adat Sultra

Rumah Laikas

Rumah Adat Sulteng

Rumah Souraja/Rumah Raja/Rumah Besar

Rumah Adat Sulut

Rumah Bolang Mongondow

Rumah Adat Kaltim

Rumah Lamin

Rumah Adat Kalsel

Rmah Banjar

Rumah Adat Kalteng

Rumah Betang

Rumah Adat Kalbar

Rumah Panjang

Rumah Adat NTT

Rumah Sao Ata Mosa Lakitana

Rumah Adat NTB

Rumah Dalam Lokasamawa

Rumah Adat Bali

Rumah Adat Gapura Bentar

Rumah Adat Jawa

Rumah Joglo

Rumah Adat Jawa Barat

Rumah Kasepuhan

Rumah Adat Betawi

Rumah Kebaya Gambar – Rumah Adat Betawi Provinsi DKI Jakarta

Rumah Adat Bengkulu

Rumah Bubungan Lima

Rumah Adat Lampung

Rumah Nuwo Sesat

Rumah Adat Sumatra Selatan

Rumah Limas

Rumah Adat Masyarakat Jambi

Rumah Panggung

Rumah Adat Riau

Model Rumah Adat Melayu Selaso Jatuh Kembar Gambar Rumah Adat Kepulauan Riau

Rumah Minang

Rumah Gadang Minang

Rumah Adat Batak Toba

Rumah Adat Masyarakat Batak Karo

Rumah Adat Aceh

Rumah Adat Daerah Nangro Aceh Darussalam

Rumah adat Jawa Timur

Rumah adat Jawa Timur Joglo dasar filosofi dan arsitekturnya sama dengan rumah adat di Jawa Tengah Joglo. Rumah adat Joglo di Jawa Timur masih dapat kita temui banyak di daerah Ponorogo. Pengaruh Agama Islam yang berbaur dengan kepercayaan animisme, agama Hindu dan Budha masih mengakar kuat dan itu sangat berpengaruh dalam arsitekturnya yang kentara dengan filsafat sikretismenya. Rumah Joglo umumnya terbuat dari kayu Jati. Sebutan Joglo mengacu pada bentuk atapnya, mengambil stilasi bentuk sebuah gunung. Stilasi bentuk gunung bertujuan untuk pengambilan filosofi yang terkandung di dalamnya dan diberi nama atap Tajug, tapi untuk rumah hunian atau sebagai tempat tinggal, atapnya terdiri dari 2 tajug yang disebut atap Joglo/Juglo / Tajug Loro. Dalam kehidupan orang Jawa gunung merupakan sesuatu yang tinggi dan disakralkan dan banyak dituangkan kedalam berbagai simbol, khususnya untuk simbol-simbol yang berkenaan dengan sesuatu yang magis atau mistis. Hal ini karena adanya pengaruh kuat keyakinan bahwa gunung atau tempat yang tinggi adalah tempat yang dianggap suci dan tempat tinggal para Dewa. Pengaruh kepercayaan animisme, Hindu dan Budha masih sangat kental mempengaruhi bentuk dan tata ruang rumah Joglo tersebut contohnya: Dalam rumah adat Joglo, umumnya sebelum memasuki ruang induk kita akan melewati sebuah pintu yang memiliki hiasan sulur gelung atau makara. Hiasan ini ditujukan untuk tolak balak, menolak maksud – maksud jahat dari luar hal ini masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme. Kamar tengah merupakan kamar sakral. Dalam kamar ini pemiliki rumah biasanya menyediakan tempat tisur atau katil yang dilengkapi dengan bantal guling, cermin dan sisir dari tanduk. Umumnya juga dilengkapi dengan lampu yang menyala siang dan malam yang berfungsi sebagai pelita, serta ukiran yang memiliki makna sebagai pendidikan rohani, hal ini masih dalam pengaruh ajaran Hindu dan Budha. Untuk rumah Joglo yang terletak di pesisir pantai utara seperti Tuban, Gresik dan Lamongan unsur-unsur di atas di tiadakan karena pengaruh Islam masuk. Melalui akultrasi budaya jawa yang harmoni, penyebaran Islam berbaur harmonis dengan budaya dan adat istiadat kepercayaan animisme, Hindu dan Budha. Islam pun mulai menjalar ke berbagai daerah di Jawa Timur, seperti di Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan sebagian Bojonegoro, sedangkan kota-kota di bagian barat Jawa timur memiliki kemiripan rumah adat Jawa Tengah, terutama Surakarta dan Yogyakarta yang disebut sebagai kota pusat peradaban Jawa. Rumah Joglo juga menyiratkan kepercayaan kejawen masyarakat Jawa yang berdasarkan sinkretisme. Keharmonisan hubungan antara manusia dan sesamanya (“kawulo” dan “gusti”), serta hubungan antara manusia dengan lingkungan alam di sekitarnya (“microcosmos” dan “macrocosmos”), tecermin pada tata bangunan yang menyusun rumah joglo. Baik itu pada pondasi, jumlah saka guru (tiang utama), bebatur (tanah yang diratakan dan lebih tinggi dari tanah disekelilingnya), dan beragam ornamen penyusun rumah joglo. Rumah Joglo mempunyai banyak jenis seperti Joglo Lawakan Joglo Sinom Joglo Jompongan Joglo Pangrawit Joglo Mangkurat

Rumah adat Sunda

Rumah Adat Sunda umumnya dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, ijuk, daun kelapa, sirap, batu, dan tanah. Selain itu, bangunannya tidak berdiri langsung di atas tanah, melainkan berbentuk rumah panggung. Tujuannya adalah melancarkan sirkulasi udara sekaligus menghindari serangan dari binatang buas. Tinggi panggung rumah-rumah khas Parahyangan ini biasanya sekitar 40 hingga 60 cm di atas permukaan tanah, cenderung dilengkapi geladak berupa tangga serta teras depan. Uniknya, bentuk atap pada Rumah Adat Jawa Barat memiliki perbedaan pada tiap-tiap wilayah Tanah Sunda
Bentuk atap atau kalau orang sunda menyebutnya (suhunan), Beberapa Rumah Adat Sunda dibuat untuk menyesuaikan dengan keadaan alam serta kebutuhan masyarakatnya. Beberapa model rumah khas Parahyangan dilihat dari atapnya adalah suhunan jolopong atau regol, suhunan tago, suhunan badak heuay, suhunan perahu nangkub, suhunan capit gunting, suhunan julang ngapak, suhunan buka palayu, dan buka pongpok.